it’s me (3)

April 21, 2008

di umurku yang terbilang masih muda, aku menikahi pacarku. Dia cantik, punya kulit putih, kalo pas kepanasan pipinya seperti tomat segar, dan tentunya ia juga lulusan pondok. Dia bisa dikatakan perfect, sempurna. Setiap dia berjalan kemana saja, tak ada mata yang tak memandang kagum padanya. Idola setiap pria. Hari H pun dah ditentukan. dan selama dua hari dua malam, kami merayakannya. layaknya pesta perkawinan pada umumnya.

Awal kahidupan rumah tangga serasa nikmat, dan kebanyakan banyak rasa sukanya. Apa saja yang ia pinta, tentu sebisa aku penuhi. Walaupun harus bertaruh nyawa sekalipun. Aku sangat mencintainya, dan aku yakin siapa saja yang setengah mati cinta sama seseorang, apa saja yang bisa membuat bahagia sang sandaran hati tentu akan dilakukannya.

Tapi dibalik kesenanganku memanjakan dia, justru pada akhirnya membuat aku merasa paling terpuruk.

demi rasa cintaku padanya, aku rela banting tulang siang malam. Dan demi membahagiakan dia, aku rela kerja di luar kota. Walaupun aku kerja kebanyakan ke luar kota, tapi aku komitmen dengan sang istri untuk selalu berkomunikasi.

hingga suatu hari aku mendengar desas-desus kalo selama aku kerja di luar kota, Istri selingkuh dengan seseorang. Satu dua kali tentu aku tak pedulikan, karena aku percaya sekali dengan istriku itu. tapi lama-kelamaan kabar itu semakin panas saja di kupingku.

dengan membayar seseorang, pada suatu aku memata-matai istriku itu. Kemana saja dia pergi, aku suruh orang bayaranku itu mengikutinya. yang pada akhirnya, pada suatu malam ia pergi dengan seseorang laki-laki. pergi ke suatu tempat berdua. dan kalian tahu apa yang mereka berdua lakukan, Istriku melakukan apa yang pernah ia lakukan kepadaku. tidur berdua… sungguh bejat.

orang suruhanku tadi akhirnya memberikan rekaman video istriku.

betapa hancurnya hati ini saat itu, entah apa yang aku perbuat. apakah aku harus membunuhnya? saat itu, otakku tidak tak bisa untuk berpikir. dunia rasanya mau runtuh. Laki-laki bekerja siang malam, di luar kota, tapi kenapa dia bersenang-senang dengan selingkuhannya yang tak lain adalah temanku sendiri?

Singkat cerita, aku kemudian menceraikannya. Untuk apa istri yang tak bermoral seperti itu.

setelah itu, aku seperti tak semangat untuk hidup. aku malu terhadap orang tua, aku malu kepada saudara-saudaraku, tetanggaku. kenapa sekali jatuh cinta kemudian menikah langsung diberi cobaan seperti ini? beberapa hari kemudian, aku jatuh sakit karena terlalu stres. hingga aku di rawat di rumah sakit. semua badanku terasa tidak bisa digerakkan. aku seperti orang sekarat, tak mau hidup mati pun segan.

setelah sembuh, kemudian aku mengurung diri. aku meratapi nasibku yang bisa seperti ini…!! setiap malam aku menangis di atas sejadah. dan mulai saat itu, sholat malam selama 4 bulan aku jalani, demi mendapatkan cahayaNya. dalam do’a itu aku cuma meminta, seandainya aku masih mempunyai jodoh, aku meminta untuk diberi tahu jodohku itu dengan digetarkannya hati ini jika suatu saat dipertemukan. dan tentunya jodoh itu tak sebejat mantan istriku.

Akhirnya, aku putuskan kalau lama-lama di kampungku dan masih tetap meratapi semua kejadian bodoh itu, aku bisa gila beneran. aku pun pergi dari rumah. dan tempat tujuan satu-satunya adalah pondok yang dulu pernah aku jadikan tempat menuntut ilmu.

sampai di sana aku diberi saran oleh petinggi pondok itu. beliau yang setelah mendengar ceritaku tadi,menyarankan agar aku harus hijrah. pergi jauh agar hati dan perasaan ini tenang. kalau perlu pergi ke luar jawa.

Benar juga apa yang dikatakan beliau, aku memutuskan untuk pergi ke sumatra.(bersambung)


It’s me (2)

April 20, 2008

menyambung cerita perjalananku yg kemarin,

dengan keajadian yg pernah aku alami, aku berharap akan segera tersentuh hatinya. tapi apa? hingga lulus pondok pun mereka tetap tak menyadarinya. keadaan semakin parah menurutku, hingga aku putuskan untuk pergi merantau.

Jakarta adalah tempat aku mencoba mengadu nasib. dengan uang seadanya, aku mencoba untuk bertahan hidup. saat aku mulai kehabisan uang, aku mulai berpikir untuk mencari. sekiranya bisa makan.

hingga suatu hari aku bekerja sebagai tukang buruh cuci piring di sebuah warung. dan sebagai upahnya aku mendapat jatah makan. lumayan perut tidak keroncongan. aku pun juga mulai bergaul dengan anak jalanan. dari mereka aku mulai kenal dengan dunia ngamen. semuanya semata aku lakukan demi sesuap nasi. agar badan ini tidak mati karena kelaparan.

kuli kasar pun juga mulai aku jalani. dan alhamdullilah aku bisa mengumpulkan sedikit uang.

pada suatu hari aku mulai kenal seseorang. dia mengajakku bekerja tetap. Dan tak tanggung-tanggung, aku pun bekerja sebagai mafia. dengan semua orang kenal aku, hingga aku pun pernah pergi malaysia untuk menyelesaikan suatu tugas. hingga aku dipercaya sebagai tangan kanannya. dari hasil mafia itu, cukup besar. terkadang teman-temanku aku ajak dugem. Ohh… Ya Allah inilah aku yang seorang lulusan pondokkan?

jujur aku nggak mengharapkan demikian. pada akhirnya aku juga sadar kembali. aku ingin menjadi diriku yang dulu. kembali lagi pada ruhku yang pondok itu.

kemudian aku ga tahan, aku putuskan untuk pulang kampung.

selama aku berada di jakarat, apa saja yg aku lakukan di sana, orang tuaku tdk pernah tahu.

sesampai di kampung, aku bertemu dengan pujaan hatiku. yang sedari kecil, aku telah mencintainya. dia pernah bilang kepadaku, kalau kita akan mulai berhubungan kalau sudah lulus pondok. dan ternyata ia tak lupa akan kata-katanya. kita pun mulai berhubungan kembali.

perlu diketahui, kalau dia adalah cinta pertamaku. cinta pertama yang membuat aku terkagum-kagum padanya. cinta pertama yang pada akhirnya membuat diri ini hancur hingga aku menemukan permataku kembali. aku adalah orang yang tidak suka berpacaran, jadi sudah aku putuskan untuk menikahinya di umurku yang terbilang muda, 22 tahun. (bersambung)


Perjalananku (1)

April 19, 2008

Blog yg ku buat ini adalah semata-mata ingin mencurahkan semua perjalananku yang lumayan panjang. Jadi, bisa dikatakan kalau ini adalah catatan kecilku.

terlahir sebagai anak tunggal tentunya sangat menyenangkan. ditambah lagi kalau orang tua kita lumayan cukup materi. segala keinginan kita InsyaALLAH tentu akan dipenuhi. tapi beda dengan aku yang terlahir sebagi anak satu-satunya. cerita ini bukannlah untuk menuntut orang tua tentang kelalaian mereka, aku bukanlah anak yang suka mendurhakai orang tua.

berawal saat aku umur 4 tahun, aku sudah ditinggal ibuku merantau ke negeri arab. entah apa yang beliau cari, padahal ayah juga tak kurang-kurangnya dalam berpenghasilan. saat itu juga, aku dititipkan ke saudara ayah. Bisa dibayangkan, umurku yang demikian balita tentunya harus selalu dipenuhi kasih sayang. tapi aku waktu itu, hidup seperti tak punya orang tua saja.
masa kecil ku jalani dengan kesendirian tanpa belaian hangat seorang ibu. terkadang aku iri terhadap anak-anak seusiaku. kebanyakkan mereka hidup seadanya tapi kasih sayang dari orang tua terutama dari seorang ibu tak kurang-kurang. aku betul-betul sangat iri kepada mereka semua. ayah pun hanya marah saja, setiap apa yang aku lakukan salah. semua sepertinya tidak peduli padaku.

lulus SD aku disuruh belajar di Pondok terkemuka di kota kelahiran pak SBY. Aku pun menerimanya dengan ikhlas dan demi baktiku kepada orang tua. 6 tahun aku tinggal di pondok. kehidupan di pondok pun tak semudah yang dibayangkan. tapi aku bersyukur telah belajar di sana. karena dari sini lah aku mendapatkan keahlian. selama aku belajar agama dan belajar tentang dunia di pondok, aku sudah sepenuhnya fokus dalam belajar. aku tak ingin dalam belajar pondok, aku seperti anak muda lainnya, punya pacar. selain karena ketatnya peraturan yang tidak memperbolehkan hubungan lawan jenis yang bukan mukhrimnya, tapi dari sisi aku juga yang tidak mau. fokus dalam belajar sehingga membuat orang tua bangga yang aku ke depankan.
dalam sebulan aku diberi jatah orang tua sekitar Rp. 150.000. saat itu aku dalam tahap belajar setingkat smp. nominal yang cukup kecil untuk saat ini. tapi pada waktu itu, jumlah segitu sudah termasuk besar. seratus ribu aku buat untuk membayar kebutuhan sekolah, sisa lima puluh untuk keperluan pribadi seperti makan, jajan tiap hari. namun, uang lima puluh itu tak semuanya aku pakai foya-foya. tiga puluh ribu aku buat membayar sedekah, memberikan kepada mereka kaum dhu’afa atas nama orangtuaku. hal demikian kulakukan semata-mata agar orang tuaku tahu kalau aku disini tak butuh materi tapi kasih sayanglah. hingga tinggal dua puluh ribu itulah aku buat makan dalam sebulan.

tak mudah makan dengan uang dua puluh ribu, maka aku menyiasatinya dengan nyambi kerja keras. mambantu keluarga pondok sehingga kadang aku diberi upah. seandainya musim tanam datang, aku pun tak ketinggalan untuk ikut menanam. di sekitar aliran sungai, aku mencoba menanam sayuran seperti kacang panjang, sawi, mentimun dan lain sebagainya yang nantinya kalau panen aku bisa menjualnya. sehingga aku pun sedikit bisa menutupi uang makanku. pernah aku menanam rumput gajah, rumput yang buat makan ternak sapi. seikat di hargai 3000.
tak selamanya kiriman orang tua itu selalu tepat waktu. ada kalanya kiriman mereka telat, sehingga aku pun kadang makan makanan yang lebih murah. kalau tidak makan nasi putih pastilah aku makan nasi gaplek (makanan yang terbuat dari ketela).
semua ku lakukan hanyalah demi baktiku kepada orang tua. tapi kenapa mereka tidak tahu apa sebenarnya yang ku inginkan?
(bersambung)


My Little Honey

April 18, 2008

Selama aku mengarungi hidup yang penuh dengan suka duka ini, ketika diri ini benar-benar merasa dalam posisi nol, saat raga ini amat terpuruk, Tuhan tiba-tiba menghadirkan engkau. Jantung berdetak hebat saat aku mendengar suaramu. Padahal saat itu, aku tak tahu kau dan kau pun tak tahu diriku.

Pernah hati dan diri ini seakan mati rasa, hidup tak mau mati pun segan. Tapi setelah aku bertemu dengan kau, wahai kekasihku, aku menemukan kembali lentera penerang jalan. Sekarang, setiap apa saja yang aku lakukan, apa yang aku usahakan dan apa yang aku kerjakan, semata-mata hanyalah untuk engkau.

Demi nama Tuhanku, aku bersumpah, aku akan menjemputmu, membawamu ke dalam hubungan yang lebih serius, apa pun yang kan terjadi dan bagaimana pun keadaanmu.. selama aku masih diberi umur. Pasti aku akan menjemputmu, setialah padaku, dan jangan kau mendua. Hati ini sudah percaya sepenuhnya…!!

Semoga Allah SWT memudahkan perjalanan cinta kita…!! Terimakasih Honey…!!