Perjalananku (1)

April 19, 2008

Blog yg ku buat ini adalah semata-mata ingin mencurahkan semua perjalananku yang lumayan panjang. Jadi, bisa dikatakan kalau ini adalah catatan kecilku.

terlahir sebagai anak tunggal tentunya sangat menyenangkan. ditambah lagi kalau orang tua kita lumayan cukup materi. segala keinginan kita InsyaALLAH tentu akan dipenuhi. tapi beda dengan aku yang terlahir sebagi anak satu-satunya. cerita ini bukannlah untuk menuntut orang tua tentang kelalaian mereka, aku bukanlah anak yang suka mendurhakai orang tua.

berawal saat aku umur 4 tahun, aku sudah ditinggal ibuku merantau ke negeri arab. entah apa yang beliau cari, padahal ayah juga tak kurang-kurangnya dalam berpenghasilan. saat itu juga, aku dititipkan ke saudara ayah. Bisa dibayangkan, umurku yang demikian balita tentunya harus selalu dipenuhi kasih sayang. tapi aku waktu itu, hidup seperti tak punya orang tua saja.
masa kecil ku jalani dengan kesendirian tanpa belaian hangat seorang ibu. terkadang aku iri terhadap anak-anak seusiaku. kebanyakkan mereka hidup seadanya tapi kasih sayang dari orang tua terutama dari seorang ibu tak kurang-kurang. aku betul-betul sangat iri kepada mereka semua. ayah pun hanya marah saja, setiap apa yang aku lakukan salah. semua sepertinya tidak peduli padaku.

lulus SD aku disuruh belajar di Pondok terkemuka di kota kelahiran pak SBY. Aku pun menerimanya dengan ikhlas dan demi baktiku kepada orang tua. 6 tahun aku tinggal di pondok. kehidupan di pondok pun tak semudah yang dibayangkan. tapi aku bersyukur telah belajar di sana. karena dari sini lah aku mendapatkan keahlian. selama aku belajar agama dan belajar tentang dunia di pondok, aku sudah sepenuhnya fokus dalam belajar. aku tak ingin dalam belajar pondok, aku seperti anak muda lainnya, punya pacar. selain karena ketatnya peraturan yang tidak memperbolehkan hubungan lawan jenis yang bukan mukhrimnya, tapi dari sisi aku juga yang tidak mau. fokus dalam belajar sehingga membuat orang tua bangga yang aku ke depankan.
dalam sebulan aku diberi jatah orang tua sekitar Rp. 150.000. saat itu aku dalam tahap belajar setingkat smp. nominal yang cukup kecil untuk saat ini. tapi pada waktu itu, jumlah segitu sudah termasuk besar. seratus ribu aku buat untuk membayar kebutuhan sekolah, sisa lima puluh untuk keperluan pribadi seperti makan, jajan tiap hari. namun, uang lima puluh itu tak semuanya aku pakai foya-foya. tiga puluh ribu aku buat membayar sedekah, memberikan kepada mereka kaum dhu’afa atas nama orangtuaku. hal demikian kulakukan semata-mata agar orang tuaku tahu kalau aku disini tak butuh materi tapi kasih sayanglah. hingga tinggal dua puluh ribu itulah aku buat makan dalam sebulan.

tak mudah makan dengan uang dua puluh ribu, maka aku menyiasatinya dengan nyambi kerja keras. mambantu keluarga pondok sehingga kadang aku diberi upah. seandainya musim tanam datang, aku pun tak ketinggalan untuk ikut menanam. di sekitar aliran sungai, aku mencoba menanam sayuran seperti kacang panjang, sawi, mentimun dan lain sebagainya yang nantinya kalau panen aku bisa menjualnya. sehingga aku pun sedikit bisa menutupi uang makanku. pernah aku menanam rumput gajah, rumput yang buat makan ternak sapi. seikat di hargai 3000.
tak selamanya kiriman orang tua itu selalu tepat waktu. ada kalanya kiriman mereka telat, sehingga aku pun kadang makan makanan yang lebih murah. kalau tidak makan nasi putih pastilah aku makan nasi gaplek (makanan yang terbuat dari ketela).
semua ku lakukan hanyalah demi baktiku kepada orang tua. tapi kenapa mereka tidak tahu apa sebenarnya yang ku inginkan?
(bersambung)