It’s me (2)

April 20, 2008

menyambung cerita perjalananku yg kemarin,

dengan keajadian yg pernah aku alami, aku berharap akan segera tersentuh hatinya. tapi apa? hingga lulus pondok pun mereka tetap tak menyadarinya. keadaan semakin parah menurutku, hingga aku putuskan untuk pergi merantau.

Jakarta adalah tempat aku mencoba mengadu nasib. dengan uang seadanya, aku mencoba untuk bertahan hidup. saat aku mulai kehabisan uang, aku mulai berpikir untuk mencari. sekiranya bisa makan.

hingga suatu hari aku bekerja sebagai tukang buruh cuci piring di sebuah warung. dan sebagai upahnya aku mendapat jatah makan. lumayan perut tidak keroncongan. aku pun juga mulai bergaul dengan anak jalanan. dari mereka aku mulai kenal dengan dunia ngamen. semuanya semata aku lakukan demi sesuap nasi. agar badan ini tidak mati karena kelaparan.

kuli kasar pun juga mulai aku jalani. dan alhamdullilah aku bisa mengumpulkan sedikit uang.

pada suatu hari aku mulai kenal seseorang. dia mengajakku bekerja tetap. Dan tak tanggung-tanggung, aku pun bekerja sebagai mafia. dengan semua orang kenal aku, hingga aku pun pernah pergi malaysia untuk menyelesaikan suatu tugas. hingga aku dipercaya sebagai tangan kanannya. dari hasil mafia itu, cukup besar. terkadang teman-temanku aku ajak dugem. Ohh… Ya Allah inilah aku yang seorang lulusan pondokkan?

jujur aku nggak mengharapkan demikian. pada akhirnya aku juga sadar kembali. aku ingin menjadi diriku yang dulu. kembali lagi pada ruhku yang pondok itu.

kemudian aku ga tahan, aku putuskan untuk pulang kampung.

selama aku berada di jakarat, apa saja yg aku lakukan di sana, orang tuaku tdk pernah tahu.

sesampai di kampung, aku bertemu dengan pujaan hatiku. yang sedari kecil, aku telah mencintainya. dia pernah bilang kepadaku, kalau kita akan mulai berhubungan kalau sudah lulus pondok. dan ternyata ia tak lupa akan kata-katanya. kita pun mulai berhubungan kembali.

perlu diketahui, kalau dia adalah cinta pertamaku. cinta pertama yang membuat aku terkagum-kagum padanya. cinta pertama yang pada akhirnya membuat diri ini hancur hingga aku menemukan permataku kembali. aku adalah orang yang tidak suka berpacaran, jadi sudah aku putuskan untuk menikahinya di umurku yang terbilang muda, 22 tahun. (bersambung)