It’s me (4)

sesampai di Sumatera, aku berusaha mencari ketenangan dan kalau bisa teman curhat. Jujur saja, selama ini aku begitu menutup diri akan masalahku terutama untuk cerita kepada lawan jenis. Sehari dua hari aku sudah bisa beradaptasi.. yahh lumayan tuk membuat hati ini melupakan segala kepenatan. Di sini, pas pada saat pertama kali, aku tidak punya tujuan apa-apa. Tidak ada dalam benakku untuk mencari kerja secepatnya. yang ada dalam pikiranku adalah berfoya-foya dulu, menghabiskan uang yang aku bawa dari jawa.

Hingga pada suatu hari, ada sms masuk dari seseorang yang tak ku kenal nomornya. dalam sms itu berbunyi kalau si pengirim itu menanyakan kabar tentang pacarnya. Dan setelah aku baca sampai tuntas, ternyata dia adalah pacarnya temanku di pondok. Yahh.. otomatis aku menjelaskan kalau aku sekarang aku tidak bersama pacarnya, melainkan sudah jauh dari Jawa.

rasa penasaran pun mulai ada dalam benak ini. Akhirnya aku telp. dia, kita pun mulai kenalan.

dia menyebutkan namanya “wasta”

dan kami pun mulai saling cerita. Hingga ia pun juga cerita tentang pacarnya itu. dalam ceritanya, aku mulai mengkritik kalau apa yang dia ceritakan itu adalah bohong, alias wasta telah dibohongi oleh pacarnya itu. Masa’ ngaku kuliah di semarang padahal saat itu kan dia lagi belajar di pacitan, alias di pondokkan.

akhirnya ku beberkan semua kenyataan tentang pacarnya itu. Dia begitu syok mendengarnya. yahh bisa dikatakan sedikit untuk mempercayainya.

Hingga pada kesempatan tertentu, ya pas aku telp dia, dia juga curhat ke aku kalau dia baru aja mutusin pacarnya itu.

pertemanan kami pun berjalan terus. Dalam aku berbicara sama dia, diri ini seakan-akan ingin mencurhatkan segala uneg-uneg di hati. Dan ternyata, dia bisa aku ajak curhat.

Dan pada suatu hari, jantung ini terasa berdetak hebat ya.. pas ngomong ma dia. sejam dua jam bisa aku tanggulangi, tp beberapa hari kemudian aku dah ndak bisa nahan arus pendek dalam diri ini. aku mulai jatuh cinta ma dia.

langsung kilat, tanpa basa basi, aku pun bertanya masalah hati ma dia. bayangkan, aku baru saja kenal dia 4 hari, ketemu wajahnya pun belum pernah. aku kok bisa mempunyai perasaan jatuh cinta?

Inikah jodohku lagi?

dia pun belum juga menjawabnya, dia bilang kalau dia sepertinya masih ragu sama aku. dia bilang kalau dia ga mungkin menerimaku, sedangkan aku sendiri adalah temen pacarnya.. dia ga mungkin selesai makan yang satu langsung makan yg lainnya. serumpunan malah…

akhirnya aku jelaskan kalau aku kenal pacarnya itu baru seminggu,,

(bersambung)

Tinggalkan Balasan